Pancoran (Cerpen)
Pagi belum genap, ibu sudah membawa segayung air sebagai pengganti jam weker . Setengah gelagapan tersedak air, aku pontang-panting berlari ke tempat wudhu. “... asholatu khairum minannaum... asholatu khairum minannaum...” Suara serak Wak Limin terdengar dari corong surau. “ Rampung sholat , ojo keturon maneh nang mburi! Ndang muleh, makani pithik terus sisan nggolek o kayu nggo masak, nggeh ?” Kali ini suara ibu yang kencang. “ Nggeh, Buk .” Sahutku setengah berlari menuju satu-satunya surau di desa kami demi melihat Wak Limin tertatih-tatih menuju tempat imam. Subuh selalu seperti ini di desaku. Dingin dan damai. Jam dinding usang di ruang tamu menunjuk pukul 04:45 saat aku bergegas membantu ibu membuka toko kelontong depan rumah. Toko kami kecil, jualannya pun seadanya. Kadang kalau dagangan sudah hampir habis tapi uang modal entah menguap kemana, toko tidak buka, tidak jualan sehari dua hari. Setelah dapat pinjaman sedikit, buka lagi. Biasanya selepas menat...