Posts

Showing posts with the label cerpen

Pancoran (Cerpen)

Pagi belum genap, ibu sudah membawa segayung air sebagai pengganti jam weker . Setengah gelagapan tersedak air, aku pontang-panting berlari ke tempat wudhu. “... asholatu khairum minannaum... asholatu khairum minannaum...”  Suara serak Wak Limin terdengar dari corong surau. “ Rampung sholat , ojo keturon maneh nang mburi! Ndang muleh, makani pithik terus sisan nggolek o kayu nggo masak, nggeh ?” Kali ini suara ibu yang kencang. “ Nggeh, Buk .” Sahutku setengah berlari menuju satu-satunya surau di desa kami demi melihat Wak Limin tertatih-tatih menuju tempat imam. Subuh selalu seperti ini di desaku. Dingin dan damai. Jam dinding usang di ruang tamu menunjuk pukul 04:45 saat aku bergegas membantu ibu membuka toko kelontong depan rumah. Toko kami kecil, jualannya pun seadanya. Kadang kalau dagangan sudah hampir habis tapi uang modal entah menguap kemana, toko tidak buka, tidak jualan sehari dua hari. Setelah dapat pinjaman sedikit, buka lagi. Biasanya selepas menat...

Andai (Cerpen)

Hari ini Jakarta resmi menjadi kota mati! Seakan sebuah black hole ditaruh di pusat kota dan menelan habis setiap gram denyut kota lengkap dengan segala energi kehidupan di dalamnya. Satu dua helai daun meluruh malas ditiup angin melewati beberapa angkot dan bus yang teronggok di tengah jalan. Tapi sungguh aku lebih suka Jakarta yang mati. Seperti saat ini.

Reuni Sesosok Gubuk Tua (Cerpen)

“Proklamasi! Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia” “Proklamasi! Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia” Setiap malam Pak Tua itu selalu berucap dalam bisik. Bisikannya pun selalu sama, cuplikan dari naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Bisikannya yang lirih entah karena tidak ingin didengar orang lain atau karena dinginnya malam yang turun di gubuk reotnya di kolong jembatan itu. Belum lagi jika hujan lebat mendera, bisikannya seolah tenggelam ditelan riuhnya petir dan runtuhan air dari langit. Belum lagi ditambah gemuruh atapnya yang berkeretak separuh jalan digoyang angin. Namun tak pernah sekalipun beliau melewatkan malamnya tanpa mengucapkan cuplikan kalimat – kalimat sakti itu. Seakan beliau berbicara pada dirinya sendiri, meyakini bahwa kemerdekaan pasti datang pada dirinya. Nanti.

Sesunyi Senyuman, Sesenyap Harapan (Cerpen)

Sayup derik suara radio komunikasi tua itu berbunyi mengabarkan kereta yang akan mendekat memasuki stasiun. Seseorang lelaki tua berusia hampir 6 dasawarsa berseragam biru lengkap dengan sepatu pantofel yang hampir setua dirinya mengerjap bangun, Kepala Stasiun Soerdjono. Masih didera rasa kantuk siang, beliau mencoba meraih topi dinasnya. Ditiupnya peluit dengan ogah untuk menghalau 1-2 pedagang asongan yang tak sayang nyawa melompati rel-rel kereta padahal di kejauhan besi tua bermesin itu makin mendekat. Beberapa penumpang berwajah lusuh duduk menunggu. Entah kereta api atau nasib baik yang mereka tunggu kedatangannya. Seperti siang-siang lain, stasiun tua ini lengang.