Posts

Showing posts with the label novel

Belum Ada Judul (Potongan Novel)

Setiap dari kita memerlukan hobi atau sebuah pengalihan dari segala rutinitas yang membelenggu. Rutinitas merupakan sebuah bahaya laten, menurutku. Setidaknya beberapa karib yang berhasil aku racuni juga mengamininya. Tapi intinya kita perlu menyeimbangkan apa yang rutin menjadi tidak rutin, apa yang tidak rutin menjadi rutin. Dari sanalah kami memulai, menjejak, dan menutupnya. Dari sanalah dongeng kami bermula. **** “Pak Min! Pak Karmiiinn! Jangan ditutup dulu Pak!” “Ah, sudah! Biarin! Biar kalian dihukum lari memutari lapangan lagi. Tidak ada kapoknya tiap Senin telat terus!” “Ayolah, Pak. Kami telat juga bukan niat kami Pak, tapi kehendak semesta. Semesta memanggil. Semesta, Pak.” Rengek Kendi meratap-ratap. “Aaaahh, semesta mana lagi yang bakal kalian bawa-bawa sebagai alasan? Membantu nenek-nenek tua bawa belanjaan? Ada kecelakaan di tikungan simpang enam? Atau anjing siapa lagi yang kalian tolong?” “Bukan, pak. Bukan. Semesta memanggil itu kami antri buang...

Jalan Seorang 'Wayang' : Part 2 (Potongan Novel)

Aku merasa dikejar sesuatu. Tak jelas wujudnya. Namun aku bisa merasakan pekatnya kepahitan dan rasa nelangsa yang sangat kuat menyedot. Semakin deras lariku, semakin pekat dan kelam. Sekejap, byarr!! Aku tersentak dari tidur, mimpi ternyata. Ku lirik setengah mata jam beker yang berdering-dering riang. Pukul 05.00. Dari kejauhan samar, sangat samar lolongan panjang entah anjing atau serigala terdengar. Tak urung meremang juga bulu kuduk ini, yang aku yakin tak ada hubungannya dengan rasa dingin suhu minus 5 derajat  saat ini. Setengah melompat, aku menuju kamar mandi. Mencuci muka mungkin bisa sedikit membantu menurunkan intensitas detak jantungku yang masih berlari usai mengalami mimpi aneh barusan. 

Jalan Seorang 'Wayang' : Part 1 (Potongan Novel)

Frankfurt am Main, 12 Desember 2015. S alju perlahan menuruni langit Oberhausen pagi ini. Hmmh, pagi yang cerah meskipun sinar matahari masih sedikit sekali yang berpendar. Lambat laun ku tarik selimut tebal wol yang sudah 2 tahun ini setia tak beranjak dari tempat tidur. Selimut itu pemberian ibu saat aku hendak berangkat ke Jerman. Yah, sudah 2 tahun dan rasanya baru kemarin masih bisa ku hirup aroma kampung halaman. Bergegas aku melompat ke dapur. Menyiapkan sedikit pengganjal perut untuk pagi di awal musim dingin yang datang tepat waktu menjelang pertengahan Desember ini. Dingin sekali! Aku periksa penunjuk suhu ruangan. Ouch, 4 derajat di bawah nol. Sambil tersandung-sandung terpaksa aku ambil baju tebal musim dinginku, kalau tidak dalam satu jam bisa dipastikan kulit dan bibirku pecah-pecah berdarah. Untung lah ini hari Minggu, aku bisa ongkang-ongkang kaki sampai siang dan tentu saja tanpa mandi.