Posts

Showing posts with the label karya original

Belum Ada Judul (Potongan Novel)

Setiap dari kita memerlukan hobi atau sebuah pengalihan dari segala rutinitas yang membelenggu. Rutinitas merupakan sebuah bahaya laten, menurutku. Setidaknya beberapa karib yang berhasil aku racuni juga mengamininya. Tapi intinya kita perlu menyeimbangkan apa yang rutin menjadi tidak rutin, apa yang tidak rutin menjadi rutin. Dari sanalah kami memulai, menjejak, dan menutupnya. Dari sanalah dongeng kami bermula. **** “Pak Min! Pak Karmiiinn! Jangan ditutup dulu Pak!” “Ah, sudah! Biarin! Biar kalian dihukum lari memutari lapangan lagi. Tidak ada kapoknya tiap Senin telat terus!” “Ayolah, Pak. Kami telat juga bukan niat kami Pak, tapi kehendak semesta. Semesta memanggil. Semesta, Pak.” Rengek Kendi meratap-ratap. “Aaaahh, semesta mana lagi yang bakal kalian bawa-bawa sebagai alasan? Membantu nenek-nenek tua bawa belanjaan? Ada kecelakaan di tikungan simpang enam? Atau anjing siapa lagi yang kalian tolong?” “Bukan, pak. Bukan. Semesta memanggil itu kami antri buang...

Sepotong Kartu Pos dari Sepotong Awan (Sajak)

Senja belum penuh mengelam. Gontai tapakmu yang ku ingat menjauh. Menapaki setapak demi setapak. Sedangkan separuh ruh seakan menggelepar di dalam sini. Dibetot bayangmu yang menghilang ditelan merahnya cakrawala. Saga.

Daun-Daun Hujan (Sajak)

I Sembah sujud sungkur seakan mengakar pada hening malam yang mengelam. Gemericik doa pun masih mengurai rinai. Teruntukmu langit, yang berbalut gerimis, yang meremahkan sabda-sabda cinta-Nya. Adakah subuh ini kalut astral kita berbagi lakon, bercerita di balik selempang layar lalu mewayangkan masing-masing rindu kita?

Kamuku dan Padang Ilalangmu (Sajak)

Padang ilalang itu masih disana.   Tapak-tapak kita masih tercetak di masing-masing sisinya,   beriringan, berseberang. Senyummu begitu riang menjejaki   bedengan lumpur sepanjang selasar kali yang mengurai panjang,   berderak retak. Padang gersang itu ada di sini.   Mengerang garang pada setiap pelangkah.   Menggeram lamban. Merutuki jejak-jejak   berdebu tak terjamah,   meremah.

Siap Menginjak Neraka 'Inferno'? (Resensi)

Baru-baru ini saya merampungkan satu bacaan yang cukup menarik bagi saya secara pribadi, Inferno karya Dan Brown. Nama yang saya sebut belakangan itu mungkin sangat familiar terdengar karena memang beberapa karya-karyanya terdahulu sudah melejit dengan menuai berbagai pro kontra di berbagai kalangan. Sebutlah salah satunya novel Da Vinci Code yang sempat menimbulkan kehebohan bagi kalangan Kristiani karena detail-detail cerita yang termuat di dalam novel tersebut menginjak batas-batas keyakinan mereka. Saya mungkin tidak akan membahasnya lebih jauh karena memang fokus saya saat ini tertarik pada karya teranyar dari sang maestro  twisted plot , Dan Brown, Inferno.

Tuhan Itu Maha Asyik (Catatan)

Senin, 25 November 2013 Masehi, 16:50 WIB “Ayo, ayo, ayo berangkat! Bis sudah menunggu di tempat parkir ya.” Satu ransel, satu tas selempang sudah nangkring di tubuh saya saat panitia mulai mengarahkan peserta menuju bis. “Ah, lumayan Menambah kapasitas ilmu temanya.” Pikir saya pragmatis. Tak ayal kami berlima belas pun senyum-senyum riang saja. Rebo Paing, Wulan Sadha, Tahun Jimakir, Windu Sancaya kaping 1655 Pemuda bertubuh liat itu masih mondar-mandir di sekitaran pelabuhan yang baru disinggahinya dari setengah hari perjalanan berkuda dari ujung barat Pulau Jawa, menyusuri pantai utara. Seorang Begawan betawi mengatakan tempat yang ditujunya hanya selemparan batu dari tanah kelahirannya, tanah yang pernah ditinggalkannya dulu. Satu setengah hari berkuda. Tapi entah, dia ragu melangkah saat ditemuinya jalan setapak bercabang, dekat pelabuhan yang nantinya berjuluk Tanjung Priuk.

Untukmu, Sebuah Nagari (Sajak)

Nduk,  akan aku ceritakan padamu satu hikayat. Tentang sebentang nagari, yang suatu waktu itu pernah aku janjikan padamu. Sebentang nagari itu berbukit-bukit. Dimana batu-batunya menulis dan menyimpan narasi sendiri, atas setiap nama yang menjejak masanya. ....dan dari puncak bukit itu kita akan mengejar senja yang tampak kuning menyedihkan. Haru sekaligus menentramkan sebelum hilang ditelan kokoh jajaran bukit yang lain.

Sepotong Malam di Ujung Kota #00 (Sajak)

Sepanjang hal yang dapat aku ingat semesta bekerja dalam salah satu aturan mutlak. Nol-nol. Titik awal. Titik penciptaan. Segala permulaan dari segala sesuatu. Bukankah klausa itu yang mendasari setiap pencarian terbesar dari setiap generasi manusia? Titik nol dan nol. Absis dan ordinat. Bigbang . Adam dan Hawa. Ruang kelas 1A.

Sepotong Malam di Ujung Kota #04 (Sajak)

Adakah yang lebih mencengangkan dan mencandukan dari secuplik kota yang berabad-abad berdiri kokoh dengan segala kenangan-kenangan manis, berdarah, pilu dari masa lalu yang terpahat kasat mata di setiap jengkal dinding, akar-akar mati terbenam dalam tanah, jalan-jalan tak bernama di tengah malam? Ada...

Sepotong Malam di Ujung Kota #03 (Sajak)

Langit berputar atau aku yang sedang memutar kepala mencoba tetap waras? Beberapa jam aku putar mundur untuk mengais-ngais sedikit alasan.                   Aku disana. Kebingungan di tengah kerumunan yang menyemut. Sensasi dingin kota yang terkenal karena apelnya ini selalu aneh memarut-marut kulitku. Sedikit kenyamanan yang pahit bercampur kenangan naif. Pudar.

Treasury Dealing Room #1: Peluang Pasar Keuangan, Alternatif atau Bumerang? (Opini)

Pasar Keuangan Indonesia Masih Hijau Tahun 2012 pasar keuangan Indonesia masih mencatatkan kinerja yang cukup hijau di tengah riuhnya perekonomian dunia pasca krisis Eropa. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun BPS, IHSG mencatat posisi 4.121,55 di kuartal pertama 2012 atau naik 442,88 poin (+12,04%) dibandingkan kuartal pertama tahun 2011. Hal yang sama terjadi di kuartal-kuartal selanjutnya dimana IHSG ditutup pada posisi 4.316,69 di akhir kuartal IV tahun 2012 atau menguat 494,7 poin (+12,95%) dibandingkan posisi di akhir kuartal IV 2011. Kinerja pasar keuangan khususnya pasar modal yang terus membaik ini tidak lepas dari kinerja sektor riil Indonesia yang menyokong kondisi perekonomian. Membaiknya aktivitas pasar modal dan pasar uang di Indonesia dalam kurun 5 tahun terakhir tidak terlepas dari sokongan kinerja pelaku-pelaku ekonomi di sektor riil. Selain itu, keberanian Bank Indonesia selaku bank sentral dan pemegang kebijakan moneter dengan mengambil langkah mempertahank...

Sepotong Malam di Ujung Kota #02 (Sajak)

Senja menghilang di ubun-ubun kota. Tapakmu yang berlarian riang tak tentu arah menyeretku ke dalam pusaran kenangan. Lampu kota temaram, jalan setapak, taman kota, alun-alun, bintang. Dua jam. Nampaknya kamu mulai lelah. Di bawah pepohonan rindang itu kamu berhenti, tersengal-sengal oleh nafasmu yang bersahutan.

Sepotong Malam di Ujung Kota #01 (Sajak)

Langit sepotong itu berarak, menggantung di atasmu, mengejekku. Di bangku taman ini, tak bosan aku menekuri diriku sendiri, sedangkan kamu menelanjangi langit sedari tadi, tak peduli gigitan nyamuk-nyamuk liar. Katamu jawaban akan ada asal aku bersabar menunggumu selesai mencacah bintang. Sontak aku menyadari jawaban yang sudah kamu suguhkan sejak awal. Seketika aku seret kakiku menjauh. Ilusi, kesemuan, abstrak. Kamulah bintang. Gunawan Wiyogo Siswantoro Cempaka Putih 18:48 WIB, 30 Maret 2013

Semoga Kamu Bukan Bintang (Sajak)

A ku yakin di ujung sana, di pinggiran semesta mungkin, konstelasi bintang pernah membentuk nama kita dari sekian miliar kemungkinan kombinasi posisi pada orbit-orbit mereka. Seyakin ringan langkahmu kala merengek minta diantar ke planetarium selepas kelas astronomi pertamamu, hanya demi memuaskan dahaga akan cincin Orion. Tak peduli seberapa kali kamu mengoceh tentang postulat-postulat Einstein hingga hubungan antara enak tidaknya gulai kari buatanmu dengan kaidah Lorentz (yang sampai sekarang belum sanggup aku patahkan keshahihannya), bagiku keceriaan dunia kecilmu seumpama Anggun C. Sasmi bersabda, salju di tengah Sahara. Teduh. Namun terkadang dirimu terlalu masyuk hingga mungkin kamu lupa aku disini untuk siapa.  Melambat aku meraba-raba orbitku yang ku rasa hanya sebaik komet. Pelengkap yang lalu hilang pun tak apa. Aku naif? Atau kamu yang tak peka? Aku butuh kamu menjadikanku porosmu.  Kamu paham konsep matahari dan bumi? Aku mataharimu.

Pancoran (Cerpen)

Pagi belum genap, ibu sudah membawa segayung air sebagai pengganti jam weker . Setengah gelagapan tersedak air, aku pontang-panting berlari ke tempat wudhu. “... asholatu khairum minannaum... asholatu khairum minannaum...”  Suara serak Wak Limin terdengar dari corong surau. “ Rampung sholat , ojo keturon maneh nang mburi! Ndang muleh, makani pithik terus sisan nggolek o kayu nggo masak, nggeh ?” Kali ini suara ibu yang kencang. “ Nggeh, Buk .” Sahutku setengah berlari menuju satu-satunya surau di desa kami demi melihat Wak Limin tertatih-tatih menuju tempat imam. Subuh selalu seperti ini di desaku. Dingin dan damai. Jam dinding usang di ruang tamu menunjuk pukul 04:45 saat aku bergegas membantu ibu membuka toko kelontong depan rumah. Toko kami kecil, jualannya pun seadanya. Kadang kalau dagangan sudah hampir habis tapi uang modal entah menguap kemana, toko tidak buka, tidak jualan sehari dua hari. Setelah dapat pinjaman sedikit, buka lagi. Biasanya selepas menat...

'Hiu-Hiu Kecil' SPAN, Perlukah Dikelola? (Opini)

Langkah revolusi dan reformasi saat ini sedang diusung Kementerian Keuangan khususnya oleh 3 unit instansi Eselon I & II di dalamnya yaitu Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Anggaran, dan Pusintek melalui penerapan suatu sistem aplikasi manajemen keuangan berbasis web bertajuk SPAN (Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara). Sistem ini digadang-gadang mampu memperbaiki dan mempermudah proses bisnis keuangan terkait tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Anggaran saat ini. Lebih jauh, SPAN diharapkan mampu mengintegrasikan sistem aplikasi dan data keuangan di unit instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan mampu memberikan beberapa keuntungan lain yang menjadi tujuan jangka pendek maupun jangka panjang dari proyek besar ini.  

Andai (Cerpen)

Hari ini Jakarta resmi menjadi kota mati! Seakan sebuah black hole ditaruh di pusat kota dan menelan habis setiap gram denyut kota lengkap dengan segala energi kehidupan di dalamnya. Satu dua helai daun meluruh malas ditiup angin melewati beberapa angkot dan bus yang teronggok di tengah jalan. Tapi sungguh aku lebih suka Jakarta yang mati. Seperti saat ini.

Reuni Sesosok Gubuk Tua (Cerpen)

“Proklamasi! Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia” “Proklamasi! Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia” Setiap malam Pak Tua itu selalu berucap dalam bisik. Bisikannya pun selalu sama, cuplikan dari naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Bisikannya yang lirih entah karena tidak ingin didengar orang lain atau karena dinginnya malam yang turun di gubuk reotnya di kolong jembatan itu. Belum lagi jika hujan lebat mendera, bisikannya seolah tenggelam ditelan riuhnya petir dan runtuhan air dari langit. Belum lagi ditambah gemuruh atapnya yang berkeretak separuh jalan digoyang angin. Namun tak pernah sekalipun beliau melewatkan malamnya tanpa mengucapkan cuplikan kalimat – kalimat sakti itu. Seakan beliau berbicara pada dirinya sendiri, meyakini bahwa kemerdekaan pasti datang pada dirinya. Nanti.

Sesunyi Senyuman, Sesenyap Harapan (Cerpen)

Sayup derik suara radio komunikasi tua itu berbunyi mengabarkan kereta yang akan mendekat memasuki stasiun. Seseorang lelaki tua berusia hampir 6 dasawarsa berseragam biru lengkap dengan sepatu pantofel yang hampir setua dirinya mengerjap bangun, Kepala Stasiun Soerdjono. Masih didera rasa kantuk siang, beliau mencoba meraih topi dinasnya. Ditiupnya peluit dengan ogah untuk menghalau 1-2 pedagang asongan yang tak sayang nyawa melompati rel-rel kereta padahal di kejauhan besi tua bermesin itu makin mendekat. Beberapa penumpang berwajah lusuh duduk menunggu. Entah kereta api atau nasib baik yang mereka tunggu kedatangannya. Seperti siang-siang lain, stasiun tua ini lengang.

Jalan Seorang 'Wayang' : Part 2 (Potongan Novel)

Aku merasa dikejar sesuatu. Tak jelas wujudnya. Namun aku bisa merasakan pekatnya kepahitan dan rasa nelangsa yang sangat kuat menyedot. Semakin deras lariku, semakin pekat dan kelam. Sekejap, byarr!! Aku tersentak dari tidur, mimpi ternyata. Ku lirik setengah mata jam beker yang berdering-dering riang. Pukul 05.00. Dari kejauhan samar, sangat samar lolongan panjang entah anjing atau serigala terdengar. Tak urung meremang juga bulu kuduk ini, yang aku yakin tak ada hubungannya dengan rasa dingin suhu minus 5 derajat  saat ini. Setengah melompat, aku menuju kamar mandi. Mencuci muka mungkin bisa sedikit membantu menurunkan intensitas detak jantungku yang masih berlari usai mengalami mimpi aneh barusan.