Posts

'Hiu-Hiu Kecil' SPAN, Perlukah Dikelola? (Opini)

Langkah revolusi dan reformasi saat ini sedang diusung Kementerian Keuangan khususnya oleh 3 unit instansi Eselon I & II di dalamnya yaitu Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Anggaran, dan Pusintek melalui penerapan suatu sistem aplikasi manajemen keuangan berbasis web bertajuk SPAN (Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara). Sistem ini digadang-gadang mampu memperbaiki dan mempermudah proses bisnis keuangan terkait tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Anggaran saat ini. Lebih jauh, SPAN diharapkan mampu mengintegrasikan sistem aplikasi dan data keuangan di unit instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan mampu memberikan beberapa keuntungan lain yang menjadi tujuan jangka pendek maupun jangka panjang dari proyek besar ini.  

Andai (Cerpen)

Hari ini Jakarta resmi menjadi kota mati! Seakan sebuah black hole ditaruh di pusat kota dan menelan habis setiap gram denyut kota lengkap dengan segala energi kehidupan di dalamnya. Satu dua helai daun meluruh malas ditiup angin melewati beberapa angkot dan bus yang teronggok di tengah jalan. Tapi sungguh aku lebih suka Jakarta yang mati. Seperti saat ini.

Reuni Sesosok Gubuk Tua (Cerpen)

“Proklamasi! Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia” “Proklamasi! Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia” Setiap malam Pak Tua itu selalu berucap dalam bisik. Bisikannya pun selalu sama, cuplikan dari naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Bisikannya yang lirih entah karena tidak ingin didengar orang lain atau karena dinginnya malam yang turun di gubuk reotnya di kolong jembatan itu. Belum lagi jika hujan lebat mendera, bisikannya seolah tenggelam ditelan riuhnya petir dan runtuhan air dari langit. Belum lagi ditambah gemuruh atapnya yang berkeretak separuh jalan digoyang angin. Namun tak pernah sekalipun beliau melewatkan malamnya tanpa mengucapkan cuplikan kalimat – kalimat sakti itu. Seakan beliau berbicara pada dirinya sendiri, meyakini bahwa kemerdekaan pasti datang pada dirinya. Nanti.

Sesunyi Senyuman, Sesenyap Harapan (Cerpen)

Sayup derik suara radio komunikasi tua itu berbunyi mengabarkan kereta yang akan mendekat memasuki stasiun. Seseorang lelaki tua berusia hampir 6 dasawarsa berseragam biru lengkap dengan sepatu pantofel yang hampir setua dirinya mengerjap bangun, Kepala Stasiun Soerdjono. Masih didera rasa kantuk siang, beliau mencoba meraih topi dinasnya. Ditiupnya peluit dengan ogah untuk menghalau 1-2 pedagang asongan yang tak sayang nyawa melompati rel-rel kereta padahal di kejauhan besi tua bermesin itu makin mendekat. Beberapa penumpang berwajah lusuh duduk menunggu. Entah kereta api atau nasib baik yang mereka tunggu kedatangannya. Seperti siang-siang lain, stasiun tua ini lengang.

Jalan Seorang 'Wayang' : Part 2 (Potongan Novel)

Aku merasa dikejar sesuatu. Tak jelas wujudnya. Namun aku bisa merasakan pekatnya kepahitan dan rasa nelangsa yang sangat kuat menyedot. Semakin deras lariku, semakin pekat dan kelam. Sekejap, byarr!! Aku tersentak dari tidur, mimpi ternyata. Ku lirik setengah mata jam beker yang berdering-dering riang. Pukul 05.00. Dari kejauhan samar, sangat samar lolongan panjang entah anjing atau serigala terdengar. Tak urung meremang juga bulu kuduk ini, yang aku yakin tak ada hubungannya dengan rasa dingin suhu minus 5 derajat  saat ini. Setengah melompat, aku menuju kamar mandi. Mencuci muka mungkin bisa sedikit membantu menurunkan intensitas detak jantungku yang masih berlari usai mengalami mimpi aneh barusan. 

Jalan Seorang 'Wayang' : Part 1 (Potongan Novel)

Frankfurt am Main, 12 Desember 2015. S alju perlahan menuruni langit Oberhausen pagi ini. Hmmh, pagi yang cerah meskipun sinar matahari masih sedikit sekali yang berpendar. Lambat laun ku tarik selimut tebal wol yang sudah 2 tahun ini setia tak beranjak dari tempat tidur. Selimut itu pemberian ibu saat aku hendak berangkat ke Jerman. Yah, sudah 2 tahun dan rasanya baru kemarin masih bisa ku hirup aroma kampung halaman. Bergegas aku melompat ke dapur. Menyiapkan sedikit pengganjal perut untuk pagi di awal musim dingin yang datang tepat waktu menjelang pertengahan Desember ini. Dingin sekali! Aku periksa penunjuk suhu ruangan. Ouch, 4 derajat di bawah nol. Sambil tersandung-sandung terpaksa aku ambil baju tebal musim dinginku, kalau tidak dalam satu jam bisa dipastikan kulit dan bibirku pecah-pecah berdarah. Untung lah ini hari Minggu, aku bisa ongkang-ongkang kaki sampai siang dan tentu saja tanpa mandi.

Dari Pena Mahasiswa Hingga Roda Perubahan (2) : Menggugat Lewat Coretan (Opini)

S alah satu cermin itu bernama Gie, Soe Hok Gie. Lantang saja dia berteriak menggaungkan ideologi yang dipegangnya lekat-lekat. Namun bukan dengan aksi-aksi demonstrasi frontal, anarkis yang acapkali diusung mahasiswa sekarang. Gie bersikap lebih elegan dengan mencoretkan setiap ide, gagasannya melalui tulisan. Ya, itulah Soe Hok Gie. Pemuda yang lahir di Jakarta lebih dari setengah abad silam (17 Desember 1942-red). Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962-1969 ini sangat lantang terhadap segala kebijakan yang tidak berlandaskan persamaan hak. Cermin, ya cermin. Pada beliau kita sebagai mahasiswa harus bercermin tentang bagaimana ideologi tetap harus dijaga dan dihirup. Sebagai seorang idealis Gie percaya bahwa  humanisme adalah keluhuran budi manusia, kemudian menampik sekat-sekat ideologi agar setiap manusia mempunyai hak sama rata kala itu. Rasanya sangat sesuai apa yang diyakini Soe Hok Gie dengan apa yang tengah terjadi di republik tercint...