Posts

Lumbung Sumber Daya Alam Energi #1: Sejarah dan Relikui Kedaulatan Modal Indonesia

"Our jobs, our way of life, our own freedom and the freedom of friendly countries around the world would all suffer if control of the world’s great oil reserves fell into the hands of Saddam Hussein.” – George W. Bush, Presiden AS- Satu alasan mengapa kutipan yang dimuat  The New York Times pada 16 Agustus 1990 di atas menjadi menarik untuk disimak di sela-sela riuh gejolak kebijakan harga BBM saat ini adalah betapa perkara energi, khususnya minyak bumi, benar-benar menyita perhatian seorang kepala negara setingkat George W. Bush. Sebuah pandangan dari George W. Bush sejatinya sejalan dengan visi Presiden Soekarno. Meskipun masing-masing dari kedua tokoh itu membawa kepentingan negaranya masing-masing, pun dengan cara yang jelas berbeda karena pandangan tersebut nyatanya diterjemahkan George W. Bush dan suksesornya menjadi perang yang berkepanjangan di Irak maupun wilayah Timur Tengah yang lain.

Belum Ada Judul (Potongan Novel)

Setiap dari kita memerlukan hobi atau sebuah pengalihan dari segala rutinitas yang membelenggu. Rutinitas merupakan sebuah bahaya laten, menurutku. Setidaknya beberapa karib yang berhasil aku racuni juga mengamininya. Tapi intinya kita perlu menyeimbangkan apa yang rutin menjadi tidak rutin, apa yang tidak rutin menjadi rutin. Dari sanalah kami memulai, menjejak, dan menutupnya. Dari sanalah dongeng kami bermula. **** “Pak Min! Pak Karmiiinn! Jangan ditutup dulu Pak!” “Ah, sudah! Biarin! Biar kalian dihukum lari memutari lapangan lagi. Tidak ada kapoknya tiap Senin telat terus!” “Ayolah, Pak. Kami telat juga bukan niat kami Pak, tapi kehendak semesta. Semesta memanggil. Semesta, Pak.” Rengek Kendi meratap-ratap. “Aaaahh, semesta mana lagi yang bakal kalian bawa-bawa sebagai alasan? Membantu nenek-nenek tua bawa belanjaan? Ada kecelakaan di tikungan simpang enam? Atau anjing siapa lagi yang kalian tolong?” “Bukan, pak. Bukan. Semesta memanggil itu kami antri buang...

Sepotong Kartu Pos dari Sepotong Awan (Sajak)

Senja belum penuh mengelam. Gontai tapakmu yang ku ingat menjauh. Menapaki setapak demi setapak. Sedangkan separuh ruh seakan menggelepar di dalam sini. Dibetot bayangmu yang menghilang ditelan merahnya cakrawala. Saga.

Labirin 'Loopless' Bernama Dilatasi Waktu (Opini)

Berhubung rekan saya bertanya tentang dilatasi waktu, penuh suka cita saya ingin menumpahkan uneg-uneg sekalian. Lebih agar opini/wacana/pengandaian saya ini tidak hilang tertumpuk pengandaian-pengandaian yang lain. Konsep waktu yang kita kenal umumnya linier.  Past, present, future . Tapi sehubungan Mr. Albert dengan postulat-postulat relativitasnya begitu telak mengobrak-abrik keajegan konsep dimensi ('waktu' salah satunya), sedikit banyak beberapa pengandaian saya mengembun-menguap-mengembun selama ini. Kalau memang dilatasi waktu, seperti yang dikuliti mulus oleh postulat-postulat Mr. Albert, itu benar-benar memungkinkan terjadi, apakah waktu itu sendiri mempunyai dimensi turunan hasil dari setiap sisa kemungkinan yang kita ambil? Mungkin seperti ini gambarannya. Pada satu waktu, kita dihadapkan pada 2 kemungkinan yang bisa kita ambil, misal contoh sederhana, melangkah keluar rumah dengan kaki kiri terlebih dahulu atau kaki kanan terlebih dahulu. Jika kita ternyata m...

Daun-Daun Hujan (Sajak)

I Sembah sujud sungkur seakan mengakar pada hening malam yang mengelam. Gemericik doa pun masih mengurai rinai. Teruntukmu langit, yang berbalut gerimis, yang meremahkan sabda-sabda cinta-Nya. Adakah subuh ini kalut astral kita berbagi lakon, bercerita di balik selempang layar lalu mewayangkan masing-masing rindu kita?

Kamuku dan Padang Ilalangmu (Sajak)

Padang ilalang itu masih disana.   Tapak-tapak kita masih tercetak di masing-masing sisinya,   beriringan, berseberang. Senyummu begitu riang menjejaki   bedengan lumpur sepanjang selasar kali yang mengurai panjang,   berderak retak. Padang gersang itu ada di sini.   Mengerang garang pada setiap pelangkah.   Menggeram lamban. Merutuki jejak-jejak   berdebu tak terjamah,   meremah.

Siap Menginjak Neraka 'Inferno'? (Resensi)

Baru-baru ini saya merampungkan satu bacaan yang cukup menarik bagi saya secara pribadi, Inferno karya Dan Brown. Nama yang saya sebut belakangan itu mungkin sangat familiar terdengar karena memang beberapa karya-karyanya terdahulu sudah melejit dengan menuai berbagai pro kontra di berbagai kalangan. Sebutlah salah satunya novel Da Vinci Code yang sempat menimbulkan kehebohan bagi kalangan Kristiani karena detail-detail cerita yang termuat di dalam novel tersebut menginjak batas-batas keyakinan mereka. Saya mungkin tidak akan membahasnya lebih jauh karena memang fokus saya saat ini tertarik pada karya teranyar dari sang maestro  twisted plot , Dan Brown, Inferno.