Musim Semi di Jazirah (Bab #1 Part #1)
Bebatuan dan puing-puing yang tajam terlumuri darah saat tapak kaki Faraq menyentuhnya. Namun rasa laparnya tentu sangat hebat hingga mengalahkan perih luka-luka kecil di kakinya itu. Batinnya berharap ada sisa-sisa makanan yang dapat dikorek di pasar yang sudah menjadi reruntuhan. Dentuman kembali terdengar di jarak yang tidak terlalu jauh. Secara reflek, tubuhnya kecil menyembunyikan diri di kolong meja yang dipenuhi debu. Sembari melongok ke kanan dan kiri, kedua tangan bocah yang belum genap berusia 9 tahun itu erat menggenggam sepotong roti kering lusuh. Setidaknya Faraq tidak sendiri dalam berjuang mengais apapun untuk bertahan hidup di tengah kecamuk perang. Teman-teman Faraq seperti Hazir, Ahmeed, Akmal, Ibkar, Luqmaan tak kalah uletnya. Mereka sanggup berjalan hingga puluhan kilometer di antara puing-puing bangunan, yang hancur dihajar bom ataupun rudal tentara musuh, hanya untuk sekedar seikat sayur yang hampir busuk atau sekerat roti berjamur. Faraq tidak pernah men...