Posts

Musim Semi di Jazirah (Bab #1 Part #1)

Bebatuan dan puing-puing yang tajam terlumuri darah saat tapak kaki Faraq menyentuhnya. Namun rasa laparnya tentu sangat hebat hingga mengalahkan perih luka-luka kecil di kakinya itu. Batinnya berharap ada sisa-sisa makanan yang dapat dikorek di pasar yang sudah menjadi reruntuhan. Dentuman kembali terdengar di jarak yang tidak terlalu jauh. Secara reflek, tubuhnya kecil menyembunyikan diri di kolong meja yang dipenuhi debu. Sembari melongok ke kanan dan kiri, kedua tangan bocah yang belum genap berusia 9 tahun itu erat menggenggam sepotong roti kering lusuh. Setidaknya Faraq tidak sendiri dalam berjuang mengais apapun untuk bertahan hidup di tengah kecamuk perang. Teman-teman Faraq seperti Hazir, Ahmeed, Akmal, Ibkar, Luqmaan tak kalah uletnya. Mereka sanggup berjalan hingga puluhan kilometer di antara puing-puing bangunan, yang hancur dihajar bom ataupun rudal tentara musuh, hanya untuk sekedar seikat sayur yang hampir busuk atau sekerat roti berjamur. Faraq tidak pernah men...

Robohnya Nalar Kami, kah?

Mushola atau langgar  atau surau pasti membekaskan satu ingatan yang cukup kuat dalam masa kecil setiap mayoritas pribadi-pribadi dewasa yang beragama Islam. Betapapun bejat  kehidupan pribadi-pribadi itu saat ini. Secara pribadi, ingatan itu lebih terasa lekat saat satu karya A.A. Navis menjadi materi pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP. Robohnya Surau Kami.  Cerita pendek yang sangat identik dengan Ali Akbar Navis itu sendiri. Sebuah cerita tentang bagaimana bernalar dalam berkehidupan, bahkan dalam salah satu taraf paling  fundamental  yaitu   beragama dengan Tuhan dan berkehidupan dengan manusia. Serta, jika tidak sangat berat, berkesinambungan dengan alam.  Rahmatan lil Alamin.  Meskipun memang dalam  Robohnya Surau Kami  titik poinnya adalah tentang memaknai nalar agama dalam hubungan antar manusia. Pengalaman tentang bagaimana bernalar yang baik sebenarnya juga banyak ditawarkan dalam pelajaran-pelajaran yang lain. Yang...

Lele yang Muncul ke Permukaan dan Kangkung yang Naik Daun

Lele dan kangkung akan naik pamornya dalam beberapa bulan ke depan. Statusnya: Mungkin. If condition . Kondisi itu sangat mungkin terjadi karena belakangan ini beredar sebuah panduan ternak lele dan budidaya kangkung sederhana di linimasa beberapa media sosial. Panduan ini berpotensi diikuti oleh sebagian besar masyarakat karena tergolong mudah dan murah untuk diterapkan di area-area sempit. Hanya membutuhkan area seluas ember air. Benar, ember air. Dalam panduan tersebut dijelaskan bagaimana mengkombinasikan ternak lele dan budidaya kangkung dalam media sederhana berupa ember air dan gelas plastik bekas air minum kemasan. Secara garis besar, lele akan diternakkan di dalam ember, sedangkan kangkung akan dibudidayakan di dalam gelas plastik yang digantung di atas ember tadi sehingga dapat menyerap air dan nutrisi dari air di dalam ember. Alasan mengapa spesies lele yang dipilih mungkin atas pertimbangan kualitasnya sebagai penyintas di kondisi ekstrem. Lele sanggup bertahan hidup b...

Kamanungsan di Tengah Kecamuk Perang

“Bebatuan dan puing-puing yang tajam terlumuri darah saat tapak kaki Faraq menyentuhnya. Namun rasa laparnya tentu sangat hebat hingga mengalahkan perih luka-luka kecil di kakinya itu. Batinnya berharap ada sisa-sisa makanan yang dapat dikorek di pasar yang sudah menjadi reruntuhan. Dentuman kembali terdengar di jarak yang tidak terlalu jauh. Secara reflek, tubuhnya kecil menyembunyikan diri di kolong meja yang dipenuhi debu. Sembari melongok ke kanan dan kiri, kedua tangan bocah yang belum genap berusia 9 tahun itu erat menggenggam sepotong roti kering lusuh. Setidaknya Faraq tidak sendiri dalam berjuang mengais apapun untuk bertahan hidup di tengah kecamuk perang. Teman-teman Faraq seperti Hazir, Ahmeed, Akmal, Ibkar, Luqmaan tak kalah uletnya. Mereka sanggup berjalan hingga puluhan kilometer di antara puing-puing bangunan, yang hancur dihajar bom ataupun rudal tentara musuh, hanya untuk sekedar seikat sayur yang hampir busuk atau sekerat roti berjamur. Faraq tidak pernah men...

Mbak Nana dalam Pusaran Suara Rakyat, Vox Dei (?)

Sudah lama Najwa Shihab mendapat nama panggilan yang cukup lucu. Mbak Nana. Bagi beberapa orang yang suka mengikuti diskusi atau wawancara Najwa Shihab sejak lama, panggilan ini seakan ingin menggerus kesan tegas dan ‘sangar’ Najwa saat mencecar tokoh-tokoh publik. Memang kesan santai itu nampaknya yang ingin ditampilkan akhir-akhir ini jika melihat frekuensi Mbak Nana yang sudah mulai kerap tampil di layar publik tanpa tema sosial-politik-ekonomi. Seperti di beberapa acara talkshow santai yang dihadirinya, Mbak Nana terlihat luwes mengikuti tema-tema populis sembari mengikuti gimmick-gimmick lucu ala milenial, berbagi panggilan ‘lo-gue’ dengan host dan seterusnya. Meminjam kata-kata Cak Lontong, very good job, Mbak Nana. Najwa Shihab   kerap menjadi sorotan saat wawancara atau diskusi dengan elit-politik dianggap terlalu berani mengorek-ngorek keterangan yang cukup sensitif dan berbahaya. Mungkin anggapan itu berangkat dari memori masa lalu di zaman Orde Baru, dimana memper...

Jaya Jaya Wijayanti! (Resensi Buku Seri Kelima Gajah Mada: Hamukti Moksa)

Meskipun tidak dapat menjadi referensi sejarah secara utuh dan murni, kelima seri buku Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi dapat dikatakan bacaan wajib pecinta sejarah khususny a sejarah Maja pahit. Majapahit sebagai sebuah kerajaan besar yang membentuk sejarah bumi Nusantara tentu menyimpan kisah-kisah intrik berdarah yang berliku. Tak banyak novel yang mengambil lata r sejarah Majapahit sebagai tema. Malah, masih cukup jarang penulis Indonesi a yang mengambil nafas sejarah melalui karya-karyanya. Selain perlunya kedalaman riset yang sangat serius, jika penulis tidak cukup kreatif dalam menyusun plot , novel berlatar belakang sejarah sangat sedikit menarik minat pembaca. Nampaknya Langit Kresna Hariadi melihatnya sebagai tantangan sekaligus peluang. Sebelum seri Gajah Mada ini pun, Langit telah menerbitkan beberapa seri novel berlatar belakang sejarah (salah satunya mengambil tlatah pra-kerajaan Singosari) dan cukup sukses.

Lumbung Sumber Daya Alam Energi #1: Sejarah dan Relikui Kedaulatan Modal Indonesia

"Our jobs, our way of life, our own freedom and the freedom of friendly countries around the world would all suffer if control of the world’s great oil reserves fell into the hands of Saddam Hussein.” – George W. Bush, Presiden AS- Satu alasan mengapa kutipan yang dimuat  The New York Times pada 16 Agustus 1990 di atas menjadi menarik untuk disimak di sela-sela riuh gejolak kebijakan harga BBM saat ini adalah betapa perkara energi, khususnya minyak bumi, benar-benar menyita perhatian seorang kepala negara setingkat George W. Bush. Sebuah pandangan dari George W. Bush sejatinya sejalan dengan visi Presiden Soekarno. Meskipun masing-masing dari kedua tokoh itu membawa kepentingan negaranya masing-masing, pun dengan cara yang jelas berbeda karena pandangan tersebut nyatanya diterjemahkan George W. Bush dan suksesornya menjadi perang yang berkepanjangan di Irak maupun wilayah Timur Tengah yang lain.